Admin 10 Jul 2026 14:45
Hari Raya Idulfitri merupakan salah satu hari yang paling agung bagi umat Islam. Setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, kaum muslimin dianjurkan untuk menyambut hari kemenangan dengan memperbanyak rasa syukur kepada Allah Swt. Salah satu bentuk syukur yang paling utama adalah melaksanakan Shalat Idulfitri secara berjamaah. Shalat ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan syiar Islam yang memiliki dasar yang kuat dalam syariat.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa Shalat Idulfitri hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah saw. senantiasa melaksanakannya dan menganjurkan seluruh kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menghadirinya. Bahkan perempuan yang sedang haid dianjurkan datang ke tempat pelaksanaan shalat untuk menyaksikan syiar Islam dan mendengarkan khutbah, meskipun tidak ikut melaksanakan shalat.
Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa kesunahan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Pertama, mandi sebelum berangkat menuju tempat shalat. Mandi pada pagi hari Idulfitri merupakan bentuk persiapan lahiriah untuk menyambut hari yang mulia. Selain itu, umat Islam juga dianjurkan mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki, menggunakan wewangian bagi laki-laki, serta menjaga kebersihan diri sebagai wujud penghormatan terhadap syiar agama.
Kedua, disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat melaksanakan Shalat Idulfitri. Rasulullah saw. tidak berangkat menuju tempat shalat sebelum memakan beberapa butir kurma dengan jumlah ganjil. Amalan ini menjadi penegasan bahwa ibadah puasa Ramadan telah berakhir sehingga umat Islam tidak lagi menahan diri dari makan dan minum pada hari raya.
Ketiga, memperbanyak takbir sejak terbenam matahari pada malam Idulfitri hingga imam memulai shalat. Kumandang takbir merupakan ungkapan pengagungan kepada Allah Swt. sekaligus simbol kemenangan spiritual setelah berhasil menunaikan ibadah puasa. Takbir juga menghidupkan suasana keimanan dan mempererat kebersamaan umat Islam.
Keempat, disunnahkan berjalan kaki menuju tempat pelaksanaan shalat apabila memungkinkan serta menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang. Rasulullah saw. melakukan hal tersebut sebagai bentuk syiar Islam dan memperluas kesempatan untuk bersilaturahmi dengan kaum muslimin.
Di dalam pelaksanaan shalat, terdapat tambahan takbir pada rakaat pertama dan kedua sesuai tuntunan Rasulullah saw. Setelah shalat selesai, jamaah dianjurkan tetap mengikuti khutbah yang berisi nasihat, penguatan keimanan, serta pesan-pesan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Momentum Idulfitri juga hendaknya dijadikan sarana mempererat tali persaudaraan. Saling memaafkan, mengunjungi sanak keluarga, memperbanyak sedekah, dan menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan amalan yang melengkapi kebahagiaan hari raya. Kemenangan sejati bukan hanya ditandai dengan berakhirnya puasa, tetapi juga dengan lahirnya hati yang bersih, akhlak yang lebih baik, dan semangat untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mampu menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah saw. pada Hari Raya Idulfitri. Dengan demikian, Idulfitri tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat iman, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan meraih keberkahan dalam kehidupan dunia maupun akhirat.