ARTIKEL

Kesunahan Sholat idul Adha

Kesunahan Sholat idul Adha

Admin 10 Jul 2026 15:19

Kesunahan Sholat idul Adha

Menghidupkan Sunnah dalam Shalat Iduladha

Iduladha merupakan salah satu hari raya besar dalam Islam yang sarat dengan nilai ibadah, pengorbanan, dan ketakwaan. Pada tanggal 10 Zulhijah, umat Islam di seluruh dunia berkumpul untuk melaksanakan Shalat Iduladha sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Swt. sekaligus mengenang keteladanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. dalam menaati perintah-Nya. Oleh karena itu, pelaksanaan Shalat Iduladha hendaknya tidak hanya dipandang sebagai rutinitas tahunan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah saw.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Shalat Iduladha berstatus sunnah muakkadah, yaitu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah saw. senantiasa melaksanakannya dan mengajak kaum muslimin untuk menghadirinya. Bahkan mereka yang tidak dapat melaksanakan shalat, seperti perempuan yang sedang haid, dianjurkan tetap hadir untuk menyaksikan syiar Islam dan mendengarkan khutbah.

Salah satu sunnah yang dianjurkan sebelum berangkat melaksanakan Shalat Iduladha adalah mandi dan membersihkan diri. Seorang muslim juga dianjurkan memakai pakaian yang bersih dan terbaik yang dimilikinya, tanpa berlebih-lebihan. Bagi laki-laki, menggunakan wewangian juga termasuk amalan yang dianjurkan sebagai bentuk penghormatan terhadap hari raya dan syiar Islam.

Berbeda dengan Idulfitri, pada Hari Raya Iduladha disunnahkan untuk tidak makan terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat, terutama bagi mereka yang akan berkurban. Setelah selesai shalat dan penyembelihan hewan kurban, mereka dianjurkan menikmati sebagian daging kurban sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. Sunnah ini menunjukkan keterkaitan yang erat antara ibadah shalat dan ibadah kurban sebagai rangkaian syiar Iduladha.

Kaum muslimin juga dianjurkan memperbanyak takbir sejak terbit fajar pada tanggal 9 Zulhijah (bagi yang tidak berhaji) hingga hari-hari tasyrik. Takbir menjadi ungkapan pengagungan kepada Allah Swt. atas segala nikmat dan petunjuk-Nya. Kumandang takbir yang menggema di masjid, musala, maupun rumah-rumah kaum muslimin menjadi syiar yang memperkuat semangat keimanan dan kebersamaan.

Dalam perjalanan menuju tempat shalat, Rasulullah saw. menganjurkan berjalan kaki apabila memungkinkan serta menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang. Hikmah dari sunnah ini antara lain memperluas syiar Islam, memperbanyak pertemuan dengan sesama muslim, dan mempererat tali silaturahmi. Setelah shalat selesai, jamaah dianjurkan tetap mengikuti khutbah yang berisi nasihat keagamaan, penguatan akidah, serta penjelasan tentang ibadah kurban dan nilai-nilai pengorbanan.

Iduladha juga mengajarkan bahwa ketakwaan kepada Allah bukan hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kepedulian sosial. Penyembelihan hewan kurban menjadi sarana berbagi kepada fakir miskin, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan. Dengan demikian, kebahagiaan hari raya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan status sosial maupun ekonomi.

Menghidupkan sunnah-sunnah pada Hari Raya Iduladha merupakan wujud kecintaan kepada Rasulullah saw. sekaligus ikhtiar menyempurnakan ibadah. Semoga setiap langkah menuju tempat shalat, setiap lantunan takbir, serta setiap pengorbanan yang dilakukan diterima oleh Allah Swt. sebagai amal saleh yang mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga semangat keikhlasan Nabi Ibrahim a.s. dan ketaatan Nabi Ismail a.s. senantiasa menginspirasi kita untuk mengutamakan perintah Allah di atas segala kepentingan dunia, sehingga Iduladha benar-benar menjadi momentum memperkuat iman, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.


Baca Berita Lainnya